Merawat tradisi tolak balak

Ratusan warga Desa Bandungsari, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan menggelar tradisi tolak balak, Senin (28/6/2021). Meskipun di tengah guyuran hujan, mereka tetap antusias berebut nasi ingkung yang sudah dibacakan doa ulama setempat.  Dalam acara ini, warga di Desa Bandungsari berkumpul di setiap perempatan jalan dengan tetap mengenakan masker. Mereka kemudian saling berebut ingkung dan nasi bancakan yang sudah didoakan ulama setempat. Ketika acara berlangsung, hujan deras tiba-tiba turun membuat suasana rebutan semakin ramai.

Dalam acara ini, warga di Desa Bandungsari berkumpul di setiap perempatan jalan dengan tetap mengenakan masker. Mereka kemudian saling berebut ingkung dan nasi bancakan yang sudah didoakan ulama setempat. Ketika acara berlangsung, hujan deras tiba-tiba turun membuat suasana rebutan semakin ramai.

Warga tetap terus mengambil sisa-sisa nasi bancakan dan ingkung ayam untuk di bawa pulang. Sepuluh ingkung ayam yang dipersiapkan, ludes jadi rebutan warga. Guna menghindari kerumunan yang cukup lama, tokoh masyarakat Desa Bandungsari meminta seluruh warga segera membubarkan diri.  Sejumlah warga masih terlihat asyik menikmati ingkung dan nasi bancakan di lokasi. Mereka percaya adanya tradisi ini bisa mengusir semua wabah penyakit yang melanda Desa Bandungsari, termasuk virus Corona.

Kepala Desa Bandungsari, Ledy Heriyanto mengatakan, tradisi ini digelar setiap tahun pada bulan Suro. Tradisi untuk berdoa agar desa dan seluruh tanaman dijauhkan dari wabah penyakit.

“Namun karena kondisi yang darurat, tradisi tolak balak diajukan bulan ini. Meski Desa Bandungsari masuk zona hijau, namun warga tetap berdoa agar pandemi Covid-19 segera sirna,” kata Ledy Heriyanto. Ingkung dan nasi bancakan, adalah hasil olahan masing-masing kepala keluarga yang dikumpulkan lalu dimakan bersama-sama. Dalam pelaksanaannya, ada lima titik di perempatan desa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *